Hari minggu yang basah. Kaya’nya kalimat ini bisa dipake untuk gambarin Calang hari minggu kemaaren. Cuaca didominasi oleh hujan. Walopun cuaca sempat berubah-ubah, sebentar terik, terus tiba tiba hujan (yang jelas, hari minggu kemaren hari yang repot juga buat yang jemur kain :D, bolak balik angkat jemuran soalnya). Beginilah kalo “menetap” di tepi pantai, cuaca bisa berubah seketika. Tapi, tetap kalimat hari minggu yang basah dan dingin, sangat tepat untuk gambarin Calang kemaren. Sekarang aja masih hujan di luar.
Sekitar jam 19.43 menit, tiba tiba kok ada getaran-getaran selama lebih kurang tiga detik. It was an earthquake, a small shake. Bukannya sombong ataupun bangga, ngerasain gempa kaya’nya udah biasa. Entah gempa keberapa ini, sejak nyampe pertama kali ke sini bulan Juli yang lalu. Dari yang goyangannya hampir ga’ terasa, sampe yang lumayan kuat. Blom tau sih pusatnya yang ini di mana, biasanya abis gempa, aku selalu cek situs
BMG untuk lihat data gempa terakhir.
Tanggal 8 Oktober lalu giliran Pakistan yang bergetar, yang mengakibatkan ribuan orang meninggal. Turut beduka cita. Gempa, sebuah peristiwa alam yang akhir akhir ini sering aku rasakan. Sebelum gempa hari minggu ini, sebuah gempa yang cukup kuat juga terjadi di sini yang menyebabkan kita semua di sini segera harus melakukan “evakuasi.”
Tanggal 5 oktober, puasa hari pertama. Sekitar jam 16.43 Waktu Indonesia Bagian Sini, aku udah siapin kerjaan untuk hari ini, dan biasa… abis kerja teteeep nongkrongnya di depan laptop. Tiba tiba, aku merasakan sebuah getaran yang menggetarkan seisi ruangan tempat aku berada. Mula-mula getarannya kecil trus makin lama kok makin kuat, dan itu berlangsung selama beberapa detik. Belum pernah aku ngerasain gempa sekuat ini sebelumnya. Segera peristiwa ini dilaporkan temenku yang lagi kena giliran stand by di Communication Base ke Banda Aceh. Ternyata di sana juga baru aja ngerasain hal yang sama. Ngga’ lama berselang, kedengaran bunyi suara telepon dan langsung aku angkat. Di sebelah sana terdengar suara cewek dengan nada seperempat panik dan bilang,
“You have to move to the the higher ground, that’s an order from the Security Officer.” Seketika suara yang kedengaran berganti jadi suara bule Amrik yang ngulang perintah tadi, trus si Security Officer bule itu minta disambungin dengan Security Officer di sini. Setelah dua Security Officer tadi selesai ngomong, kegiatan “evakuasi” segera dimulai.
Segera Instruksi untuk naik ke bukit, diumumin lewat radio. Semua diminta segera berkumpul di luar. Sampe di luar, suasana tegang mulai terlihat. Ada seorang temen yang keliatan dengan panik menelpon keluarganya, ada yang mengumpat dengan gaya Amerika, ngeluarin kata kata
“d#@mn earthquake, f*$#@n earthquake (Amerika bengeeet), sementara aku, untuk ngurangin ketegangan masih sempat becanda dan ketawa ketawa sama temen temen yang lain. Masing-masing dari kami mulai ngomentarin apa apa aja yang dibawa ke atas bukit. Ada yang cuma bawa tas ransel yang isinya cuma sedikit. Ada yang cuma bawa sebotol air mineral yang masih disegel, padahalkan sedang puasa, ada yang cuma bawa diri, dan ada yang bawa bawa tas ransel yang isinya buku buku tebal, beserta laptopnya , yaitu aku. Tentu dong ini harus ikut dievakuasi juga. O ya, ada satu lagi, camera. Aku mulai diketawain temenku dengan bawaanku ini. Terang aja aku ikut ketawa. Apa yang aku bawa kan mencerminkan aku itu orangnya gimana. Buku, aku orangnya rajin membaca. Laptop, aku memang seneng komputer. Trus camera, ngga’ usah ditanya lagi sebabnya kenapa. Sementara aku mulai ngomentarin temenku yang cuman nenteng satu botol air mineral yang masih di segel ukuran 1,5 liter. Langsung dia jelasin dengan setengah ketawa, kalo ini kan sesuai dengan basic security in the field training, yang kita ikutin sebelum kita bener bener diterjunin ke field mission. Ketauan aku ikutan trainingnya ngga’ serius, he he, lagian kan pas puasa, mana inget inget bawa minuman. Mungkin secara ngga’ sadar aku udah think positive, dengan berpikir, sebelum waktu berbuka kita semua udah bisa turun lagi dengan selamat (berusaha membela diri :D).

Dalam perjalanan mendaki bukit, kegiatan becanda masih terus berlanjut. Sempet-sempetnya aku dan temen temen lainnya photo photo di situasi emergency. Kaya’ lagi rekreasi githu deh… Tapi sebenernya, kegiatan yang satu ini bukan semata untuk penunjang rekreasi, lebih ke kegiatan dokumentasi, biar bisa di tunjukin ke orang lain, begini nih, aku waktu evakuasi ke bukit abis gempa bumi (lagi-lagi memberikan penjelasan untuk membela diri). Sementara itu keliatan dari atas bukit, pemandangan orang orang yang berbondong bondong untuk ikut ke bukit. Beberapa ibu ada yang menangis, masih trauma dengan bencana tsunami yang mereka alami 26 Desember 2004. Di sudut lain, umpatan gaya Amerika yang keluar dari seorang Indonesia masih terus kedengaran (ada apa ya dengan ni orang, aneh deh!!!)
Para staff UN, NGO, dan sebagian penduduk berbondong-bondong menuju bukitSesampainya di bukit, peralatan komunikasi radio mobile yang aku dan temenku bawa, segera diaktifkan dan kami memulai komunikasi dengan Base Banda Aceh. Belakangan kami dengar kabar, kalo Pulau Simeuleu dan Nias, juga dapat instruksi naik ke tempat yang tinggi. Komunikasi terus berlanjut, dan kegiatan becanda juga tetep jalan.
Emergency apa rekreasi ya?Sebagai gambaran, di atas bukit yang banyak semak belukarnya, nyamuk nyamuk nakal berpesta. Kita kita yang lagi ngungsi ini menjadi korban gigitan nyamuk nyamuk nakal tersebut. Penampakan nyamuk ini, sangat mirip dengan nyamuk demam berdarah. Aku yang suka melakukan observasi segera mengeluarkan analisa, “kaya’nya ini nyamuk demam berdarah," dan langsung dengan cepat komentarku disambar seorang temenku, “iya nyamuk TBC,” kontan semua pada ketawa, TBC? Nyamuk species baru tuh :D. Maklum, puasa pertama, jadi agak agak masih korslet. Dia mo nyebut
Aedes Aegepty yang keluar malah TBC.
Di atas bukit. Nyamuk-nyamuk berpestaSementara diatas bukit suasana semakin ramai dengan bertambahnya orang yang ikut evakuasi ke bukit, tim communication base, yang terdiri dari 2 anggota inti, dan beberapa anggota hore hore yang berasal dari department programme dan logistics, masih melakukan kegiatan photo photo di lokasi tertinggi dari bukit.
Tiba-tiba ada ide dari salah seorang temen, untuk memanfaatkan laptop yang kubawa, untuk chatting, dan sekalian ngecek data gempa terakhir di situs BMG. Dengan senang hati, aku ngambil laptopku dan segera membukanya. Eh, blom lagi tu laptop bener bener idup, ada yang teriak,
“hey, don’t show up,” (dengan gaya Amerika, tapi ngga’mirip :p). Bisa ditebakkan siapa yang teriak teriak kaya’ gini? Ini jelas bikin aku langsung nanya, siapa yang show up. Sempet naik darah juga sih, tapi langsung temen temen nenangin. Betul-betul cobaan deh, di puasa hari pertama ini. Ya udah, kita lanjutin browsing, dan buka situs
BMG, untuk cek data gempa terakhir. Ternyata episentrum gempa ada di darat, sekitar 50 km selatan Banda Aceh, dengan magnitude 5.5 (walopun ada yang mencatat 5.7).
Tim hore hore emergencySementara itu, dari atas bukit, kelihatan pantai yang masih tenang. Tidak ada tanda tanda akan terjadinya tsunami, mudah-mudahan. Instruksi dari pusat, kami harus tetap di bukit sampe jam 17.30 Waktu Indonesia Bagian Sini. Teteep, kegiatan photo photo berlanjut. Sampe akhirnya nyampe ke jam 17.30, kita semua pada turun dengan selamat.
Peta Gempa 5 October 2005Malamnya sampe email yang ngirimin peta lokasi pusat gempa, dan juga gambaran keadaan di compound WFP di Banda Aceh. Ternyata di sana keadaannya lebih menegangkan. Gempanya lebih terasa kuat disana, dan kaca-kaca jendela ada yang pecah, dinding dinding ada yang retak. Pantesan, tindakan evakuasi segera diinstruksikan. Aku juga sempet sms temenku yang ada di Banda Aceh,
Wira, dia bilang memang sangat kuat, dan beberapa bagian dinding di kantornya ada yang retak.
Inilah resiko yang harus kami hadapi. Kami yang berada di Aceh untuk sebuah misi kemanusiaan. Tentu saja bukan hanya kami, tetapi juga penduduk Aceh di wilayah pantai barat, yang luput dari bencana tsunami 26 Desember 2004, dan masih trauma apabila terjadi gempa, sekecil apapun gempa itu. Setelah kejadian itu, aku belum menghitung, udah berapa gempa lagi yang kami rasakan. Terakhir, aku merasakannya hari minggu malam, 9 Oktober 2005. Entah berapa kali lagi gempa yang akan kami rasakan nanti, kami cuma bisa berdo’a, agar tetap diberikan perlindungan. Do’kan kami teman.