This (another) Comment Goes to…… Arisan!
Alka Badilla
Jam 7 malam lewat lima menit.
Saya sedang di depan komputer di kamar saya, sambil ditemenin Shelomita, dalam bentuk suara, yang menyanyikan Prahara Cinta. Satu lagu populer ciptaan Randi Anwar. Kebetulan saya lagi suka dengan lagu ini, gara-gara saya mendengarkannya lagi di film Arisan!
Arisan!.....film yang betul betul mengugah saya untuk bikin komentar tentang film ini. Sudah banyak komentar yang dikeluarkan, ditulis, dan diucapkan oleh pengamat film Indonesia atau pun penonton awam, dan umumnya sih bernada memuji. Sepertinya akan bertambah lagi komentar yang bernada memuji itu, karena saya berniat untuk membuatnya sekarang. Mungkin agak terlambat di banding yang lain. Tetapi itu bukan lah satu masalah (lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali=klise banget githu loh). Kebetulan juga, di bulan Oktober ini, film Arisan! baru saja dinobatkan sebagai film terbaik di MTV Indonesia Movie Award 2004. Saya sudah bisa menduga hasil ini, walaupun saya juga tidak begitu paham, apakah film ini lebih baik dibanding nominator nominator lainnya di kategori film terbaik.

Terus terang tanpa malu, saya harus mengaku kalo saya adalah orang yang termasuk terlambat menonton film ini. Komentar pertama yang keluar dari mulut saya sehabis menonton film ini adalah….,“sumpah, keren!!!” Temanya betul betul segar, beda dibanding yang lain, apalagi dibanding sinetewron-sinetewron Indonesia (tentang komentar perbandingan dengan sinetron kita, pernah saya baca di review review mengenai film ini. Dan sepertinya ga’ pantes githu loh githu loh githu loh di banding bandingin dengan sinetron ;p)
Film dengan budget yang tidak seberapa dibanding dengan film Hollywood ini sudah berhasil bikin mata dan pikiran penonton film Indonesia lebih terbuka. Hal hal yang selama ini taboo untuk dibahas, dengan cerdas ditampilkan di film ini, tanpa meninggalkan kesan bahwa yang ditontonkan adalah hal yang selama ini dianggap taboo.
Dan beruntungnya, tidak ada pihak pihak yang melakukan protes (untuk yang satu ini saya juga heran, kenapa ya?) padahal, ada beberapa adegan yang, sangat rentan mengundang protes. Adegan oral sex di toilet antara tokoh Yayuk Asmara dengan pemilik galeri lukisan (walaupun tidak digambarkan secara vulgar). Juga adegan ciuman “terlarang” antara tokoh Sakti dan Nino. Ada asumsi asumsi yang dibuat mengenai hal ini. Pertama, Humor di film yang di bungkus dengan adegan adegan humor yang begitu cerdas dan segar di dalamnya ini, telah mengalihkan perhatian pihak pihak yang suka bikin protes. Mereka jadinya lupa untuk protes. Memang, kemasan humor di film ini, kalau boleh saya kasi komentar, sangatlah bagus. Tanpa ada kesan dibuat-buat, bumbu humor, telah membuat film dengan tema yang sensitive ini, menjadi sebuah tontonan yang segar, tanpa mengaburkan sebuah fakta sensitive yang memang ada di tengah masyarakat kita, dan mesti diakui keberadaannya, tanpa perlu di anggap sebagai sebuah penyakit, karena masih banyak masalah lain yang lebih penting untuk dipermasalahkan. Asumsi lain mengatakan, protes tidak muncul karena, yang biasa bikin protes ga’ sempat ke bioskop untuk nonton film ini, atau, bukannya ga’ sempet, tapi ga’ mau (karena mesti mengeluarkan duit) untuk nonton film ini…….. yah, namanya juga asumsi, ini semua belum tentu benar.
Bagi saya orang yang awam tentang film, Arisan! adalah sebuah film yang tidak sempurna. Boleh setuju ataupun tidak dengan pendapat saya ini. Pastinya di dunia ini nggak ada yang perfect (seperti kata tokoh Meimei di film ini), kelebihan dan kekurangan pasti ada. Tetap bagus hasilnya kalau keduanya saling menutupi. Kreativitas yang diekspresikan di film ini cukup untuk membuat saya kagum dengan semua yang terlibat di film ini. Pemilihan tema cerita, dialog dialog yang cerdas dan mudah dicerna, sangat menarik untuk diikuti. Aktor-aktor yang bermain bagus!! (Rachel, boru apa nya kau?!!!). Yah, kekurangan memang ada di sana-sini, dan saya pun berhasil merekam beberapa kesalahan-kesalahan di film ini.
Film ini betul betul menarik perhatian saya dan membuat saya menontonnya berulang ulang. Selain suka dengan dialog di film ini, yang kata majalah Tempo "the freshest movie of the year with an almost perfect script," saya juga dengan seksama memperhatikan tiap perpindahan adegan ke adegan. Jangan tanya kualitas teknisnya, karena saya tidak mengerti sama sekali. Tetapi saya berhasil merekam beberapa kesalahan. Misalnya, adegan arisan di rumah tokoh Sakti. Tokoh Andien datang dengan sebuah kacamata di kepalanya, ketika tokoh Andien sedang mengocok nama nama peserta arisan, kacamata itu kok tidak ada? Bisa saja memang, dia melepaskannya, masalahnya, kacamata itu muncul lagi sesaat setelah dia mengambil nama peserta arisan yang beruntung dan berteriak, ”Meimei!!! Kamu lo yang dapet”.


masih adegan arisan di rumah tokoh Sakti. Ketika Andien belum datang dan ibu ibu yang lain sedang ngegosipin dia, kamera menangkap Aida Nurmala, pemeran tokoh Andien, sedang menunggu giliran, untuk mengambil bagian di adegan itu.

Moning efribaddiiii, sapaan tokoh Yungyung ini kedengaran saat adegan Sakti akan berangkat ke London. Yungyung sempat flirting ke Sakti. Ketika sampai ke adegan Sakti berkata, “sorry, but I’m in a relationship,” dan menutup kaca jendela mobil, kamera menangkap dirinya sendiri (kok bisa ya?,
atau mungkin kameranya ikutan dikasting kali ya, ;p atau itu bukan kamera? saya juga belum yakin nih), terlihat ketika bayangan Yungyung terlihat, bersama bayangan bagian depan kamera di kaca mobil. (tolong salahkan saya kalau saya salah menyalahkan)


Kira kira, bayangan apa ya, yang keliatan terus di atas tutup mesin mobilnya Meimei, pas adegan Meimei dan Nino abis jemput Andien dari kantor Polisi?

Yah, itu dia sedikit alasan kenapa saya bilang film ini tidak sempurna, tapi bukan berarti tidak bagus. Salah itu biasa. Bahkan film sekelas Gladiator pun punya kesalahan dalam hal adegan. Saya tetap menganggap film ini bagus, dan memang pantas untuk terpilih menjadi film terbaik di MTV Indonesia Movie Award 2004. saluut, buat yang bikin film ini, dan film film lainnya.
Harapan kembalinya film Indonesia ke golden era, tampaknya hal yang wajar untuk diharapkan. Sebuah perayaan, begitu seorang penulis menyebutnya. Setelah hampir sepuluh tahun industri film Indonesia sepi, mudah mudahan produksi produksi film yang sekarang sudah mulai ramai, bisa jadi sinyal bangkitnya lagi film Indonesia. Itu juga tergantung dari dukungan kita para penonton, begitu bukan?
Jam 7 malam lewat lima menit.
Saya sedang di depan komputer di kamar saya, sambil ditemenin Shelomita, dalam bentuk suara, yang menyanyikan Prahara Cinta. Satu lagu populer ciptaan Randi Anwar. Kebetulan saya lagi suka dengan lagu ini, gara-gara saya mendengarkannya lagi di film Arisan!
Arisan!.....film yang betul betul mengugah saya untuk bikin komentar tentang film ini. Sudah banyak komentar yang dikeluarkan, ditulis, dan diucapkan oleh pengamat film Indonesia atau pun penonton awam, dan umumnya sih bernada memuji. Sepertinya akan bertambah lagi komentar yang bernada memuji itu, karena saya berniat untuk membuatnya sekarang. Mungkin agak terlambat di banding yang lain. Tetapi itu bukan lah satu masalah (lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali=klise banget githu loh). Kebetulan juga, di bulan Oktober ini, film Arisan! baru saja dinobatkan sebagai film terbaik di MTV Indonesia Movie Award 2004. Saya sudah bisa menduga hasil ini, walaupun saya juga tidak begitu paham, apakah film ini lebih baik dibanding nominator nominator lainnya di kategori film terbaik.

Terus terang tanpa malu, saya harus mengaku kalo saya adalah orang yang termasuk terlambat menonton film ini. Komentar pertama yang keluar dari mulut saya sehabis menonton film ini adalah….,“sumpah, keren!!!” Temanya betul betul segar, beda dibanding yang lain, apalagi dibanding sinetewron-sinetewron Indonesia (tentang komentar perbandingan dengan sinetron kita, pernah saya baca di review review mengenai film ini. Dan sepertinya ga’ pantes githu loh githu loh githu loh di banding bandingin dengan sinetron ;p)
Film dengan budget yang tidak seberapa dibanding dengan film Hollywood ini sudah berhasil bikin mata dan pikiran penonton film Indonesia lebih terbuka. Hal hal yang selama ini taboo untuk dibahas, dengan cerdas ditampilkan di film ini, tanpa meninggalkan kesan bahwa yang ditontonkan adalah hal yang selama ini dianggap taboo.
Dan beruntungnya, tidak ada pihak pihak yang melakukan protes (untuk yang satu ini saya juga heran, kenapa ya?) padahal, ada beberapa adegan yang, sangat rentan mengundang protes. Adegan oral sex di toilet antara tokoh Yayuk Asmara dengan pemilik galeri lukisan (walaupun tidak digambarkan secara vulgar). Juga adegan ciuman “terlarang” antara tokoh Sakti dan Nino. Ada asumsi asumsi yang dibuat mengenai hal ini. Pertama, Humor di film yang di bungkus dengan adegan adegan humor yang begitu cerdas dan segar di dalamnya ini, telah mengalihkan perhatian pihak pihak yang suka bikin protes. Mereka jadinya lupa untuk protes. Memang, kemasan humor di film ini, kalau boleh saya kasi komentar, sangatlah bagus. Tanpa ada kesan dibuat-buat, bumbu humor, telah membuat film dengan tema yang sensitive ini, menjadi sebuah tontonan yang segar, tanpa mengaburkan sebuah fakta sensitive yang memang ada di tengah masyarakat kita, dan mesti diakui keberadaannya, tanpa perlu di anggap sebagai sebuah penyakit, karena masih banyak masalah lain yang lebih penting untuk dipermasalahkan. Asumsi lain mengatakan, protes tidak muncul karena, yang biasa bikin protes ga’ sempat ke bioskop untuk nonton film ini, atau, bukannya ga’ sempet, tapi ga’ mau (karena mesti mengeluarkan duit) untuk nonton film ini…….. yah, namanya juga asumsi, ini semua belum tentu benar.
Bagi saya orang yang awam tentang film, Arisan! adalah sebuah film yang tidak sempurna. Boleh setuju ataupun tidak dengan pendapat saya ini. Pastinya di dunia ini nggak ada yang perfect (seperti kata tokoh Meimei di film ini), kelebihan dan kekurangan pasti ada. Tetap bagus hasilnya kalau keduanya saling menutupi. Kreativitas yang diekspresikan di film ini cukup untuk membuat saya kagum dengan semua yang terlibat di film ini. Pemilihan tema cerita, dialog dialog yang cerdas dan mudah dicerna, sangat menarik untuk diikuti. Aktor-aktor yang bermain bagus!! (Rachel, boru apa nya kau?!!!). Yah, kekurangan memang ada di sana-sini, dan saya pun berhasil merekam beberapa kesalahan-kesalahan di film ini.
Film ini betul betul menarik perhatian saya dan membuat saya menontonnya berulang ulang. Selain suka dengan dialog di film ini, yang kata majalah Tempo "the freshest movie of the year with an almost perfect script," saya juga dengan seksama memperhatikan tiap perpindahan adegan ke adegan. Jangan tanya kualitas teknisnya, karena saya tidak mengerti sama sekali. Tetapi saya berhasil merekam beberapa kesalahan. Misalnya, adegan arisan di rumah tokoh Sakti. Tokoh Andien datang dengan sebuah kacamata di kepalanya, ketika tokoh Andien sedang mengocok nama nama peserta arisan, kacamata itu kok tidak ada? Bisa saja memang, dia melepaskannya, masalahnya, kacamata itu muncul lagi sesaat setelah dia mengambil nama peserta arisan yang beruntung dan berteriak, ”Meimei!!! Kamu lo yang dapet”.


masih adegan arisan di rumah tokoh Sakti. Ketika Andien belum datang dan ibu ibu yang lain sedang ngegosipin dia, kamera menangkap Aida Nurmala, pemeran tokoh Andien, sedang menunggu giliran, untuk mengambil bagian di adegan itu.

Moning efribaddiiii, sapaan tokoh Yungyung ini kedengaran saat adegan Sakti akan berangkat ke London. Yungyung sempat flirting ke Sakti. Ketika sampai ke adegan Sakti berkata, “sorry, but I’m in a relationship,” dan menutup kaca jendela mobil, kamera menangkap dirinya sendiri (kok bisa ya?,
atau mungkin kameranya ikutan dikasting kali ya, ;p atau itu bukan kamera? saya juga belum yakin nih), terlihat ketika bayangan Yungyung terlihat, bersama bayangan bagian depan kamera di kaca mobil. (tolong salahkan saya kalau saya salah menyalahkan)


Kira kira, bayangan apa ya, yang keliatan terus di atas tutup mesin mobilnya Meimei, pas adegan Meimei dan Nino abis jemput Andien dari kantor Polisi?

Yah, itu dia sedikit alasan kenapa saya bilang film ini tidak sempurna, tapi bukan berarti tidak bagus. Salah itu biasa. Bahkan film sekelas Gladiator pun punya kesalahan dalam hal adegan. Saya tetap menganggap film ini bagus, dan memang pantas untuk terpilih menjadi film terbaik di MTV Indonesia Movie Award 2004. saluut, buat yang bikin film ini, dan film film lainnya.
Harapan kembalinya film Indonesia ke golden era, tampaknya hal yang wajar untuk diharapkan. Sebuah perayaan, begitu seorang penulis menyebutnya. Setelah hampir sepuluh tahun industri film Indonesia sepi, mudah mudahan produksi produksi film yang sekarang sudah mulai ramai, bisa jadi sinyal bangkitnya lagi film Indonesia. Itu juga tergantung dari dukungan kita para penonton, begitu bukan?



<< Home