Monday, October 10, 2005

Menghadapi Resiko “Digoyang”

Hari minggu yang basah. Kaya’nya kalimat ini bisa dipake untuk gambarin Calang hari minggu kemaaren. Cuaca didominasi oleh hujan. Walopun cuaca sempat berubah-ubah, sebentar terik, terus tiba tiba hujan (yang jelas, hari minggu kemaren hari yang repot juga buat yang jemur kain :D, bolak balik angkat jemuran soalnya). Beginilah kalo “menetap” di tepi pantai, cuaca bisa berubah seketika. Tapi, tetap kalimat hari minggu yang basah dan dingin, sangat tepat untuk gambarin Calang kemaren. Sekarang aja masih hujan di luar.

Sekitar jam 19.43 menit, tiba tiba kok ada getaran-getaran selama lebih kurang tiga detik. It was an earthquake, a small shake. Bukannya sombong ataupun bangga, ngerasain gempa kaya’nya udah biasa. Entah gempa keberapa ini, sejak nyampe pertama kali ke sini bulan Juli yang lalu. Dari yang goyangannya hampir ga’ terasa, sampe yang lumayan kuat. Blom tau sih pusatnya yang ini di mana, biasanya abis gempa, aku selalu cek situs BMG untuk lihat data gempa terakhir.

Tanggal 8 Oktober lalu giliran Pakistan yang bergetar, yang mengakibatkan ribuan orang meninggal. Turut beduka cita. Gempa, sebuah peristiwa alam yang akhir akhir ini sering aku rasakan. Sebelum gempa hari minggu ini, sebuah gempa yang cukup kuat juga terjadi di sini yang menyebabkan kita semua di sini segera harus melakukan “evakuasi.”

Tanggal 5 oktober, puasa hari pertama. Sekitar jam 16.43 Waktu Indonesia Bagian Sini, aku udah siapin kerjaan untuk hari ini, dan biasa… abis kerja teteeep nongkrongnya di depan laptop. Tiba tiba, aku merasakan sebuah getaran yang menggetarkan seisi ruangan tempat aku berada. Mula-mula getarannya kecil trus makin lama kok makin kuat, dan itu berlangsung selama beberapa detik. Belum pernah aku ngerasain gempa sekuat ini sebelumnya. Segera peristiwa ini dilaporkan temenku yang lagi kena giliran stand by di Communication Base ke Banda Aceh. Ternyata di sana juga baru aja ngerasain hal yang sama. Ngga’ lama berselang, kedengaran bunyi suara telepon dan langsung aku angkat. Di sebelah sana terdengar suara cewek dengan nada seperempat panik dan bilang, “You have to move to the the higher ground, that’s an order from the Security Officer.” Seketika suara yang kedengaran berganti jadi suara bule Amrik yang ngulang perintah tadi, trus si Security Officer bule itu minta disambungin dengan Security Officer di sini. Setelah dua Security Officer tadi selesai ngomong, kegiatan “evakuasi” segera dimulai.

Segera Instruksi untuk naik ke bukit, diumumin lewat radio. Semua diminta segera berkumpul di luar. Sampe di luar, suasana tegang mulai terlihat. Ada seorang temen yang keliatan dengan panik menelpon keluarganya, ada yang mengumpat dengan gaya Amerika, ngeluarin kata kata “d#@mn earthquake, f*$#@n earthquake (Amerika bengeeet), sementara aku, untuk ngurangin ketegangan masih sempat becanda dan ketawa ketawa sama temen temen yang lain. Masing-masing dari kami mulai ngomentarin apa apa aja yang dibawa ke atas bukit. Ada yang cuma bawa tas ransel yang isinya cuma sedikit. Ada yang cuma bawa sebotol air mineral yang masih disegel, padahalkan sedang puasa, ada yang cuma bawa diri, dan ada yang bawa bawa tas ransel yang isinya buku buku tebal, beserta laptopnya , yaitu aku. Tentu dong ini harus ikut dievakuasi juga. O ya, ada satu lagi, camera. Aku mulai diketawain temenku dengan bawaanku ini. Terang aja aku ikut ketawa. Apa yang aku bawa kan mencerminkan aku itu orangnya gimana. Buku, aku orangnya rajin membaca. Laptop, aku memang seneng komputer. Trus camera, ngga’ usah ditanya lagi sebabnya kenapa. Sementara aku mulai ngomentarin temenku yang cuman nenteng satu botol air mineral yang masih di segel ukuran 1,5 liter. Langsung dia jelasin dengan setengah ketawa, kalo ini kan sesuai dengan basic security in the field training, yang kita ikutin sebelum kita bener bener diterjunin ke field mission. Ketauan aku ikutan trainingnya ngga’ serius, he he, lagian kan pas puasa, mana inget inget bawa minuman. Mungkin secara ngga’ sadar aku udah think positive, dengan berpikir, sebelum waktu berbuka kita semua udah bisa turun lagi dengan selamat (berusaha membela diri :D).

Dalam perjalanan mendaki bukit, kegiatan becanda masih terus berlanjut. Sempet-sempetnya aku dan temen temen lainnya photo photo di situasi emergency. Kaya’ lagi rekreasi githu deh… Tapi sebenernya, kegiatan yang satu ini bukan semata untuk penunjang rekreasi, lebih ke kegiatan dokumentasi, biar bisa di tunjukin ke orang lain, begini nih, aku waktu evakuasi ke bukit abis gempa bumi (lagi-lagi memberikan penjelasan untuk membela diri). Sementara itu keliatan dari atas bukit, pemandangan orang orang yang berbondong bondong untuk ikut ke bukit. Beberapa ibu ada yang menangis, masih trauma dengan bencana tsunami yang mereka alami 26 Desember 2004. Di sudut lain, umpatan gaya Amerika yang keluar dari seorang Indonesia masih terus kedengaran (ada apa ya dengan ni orang, aneh deh!!!)

Para staff UN, NGO, dan sebagian penduduk berbondong-bondong menuju bukit


Sesampainya di bukit, peralatan komunikasi radio mobile yang aku dan temenku bawa, segera diaktifkan dan kami memulai komunikasi dengan Base Banda Aceh. Belakangan kami dengar kabar, kalo Pulau Simeuleu dan Nias, juga dapat instruksi naik ke tempat yang tinggi. Komunikasi terus berlanjut, dan kegiatan becanda juga tetep jalan.

Emergency apa rekreasi ya?


Sebagai gambaran, di atas bukit yang banyak semak belukarnya, nyamuk nyamuk nakal berpesta. Kita kita yang lagi ngungsi ini menjadi korban gigitan nyamuk nyamuk nakal tersebut. Penampakan nyamuk ini, sangat mirip dengan nyamuk demam berdarah. Aku yang suka melakukan observasi segera mengeluarkan analisa, “kaya’nya ini nyamuk demam berdarah," dan langsung dengan cepat komentarku disambar seorang temenku, “iya nyamuk TBC,” kontan semua pada ketawa, TBC? Nyamuk species baru tuh :D. Maklum, puasa pertama, jadi agak agak masih korslet. Dia mo nyebut Aedes Aegepty yang keluar malah TBC.

Di atas bukit. Nyamuk-nyamuk berpesta



Sementara diatas bukit suasana semakin ramai dengan bertambahnya orang yang ikut evakuasi ke bukit, tim communication base, yang terdiri dari 2 anggota inti, dan beberapa anggota hore hore yang berasal dari department programme dan logistics, masih melakukan kegiatan photo photo di lokasi tertinggi dari bukit.

Tiba-tiba ada ide dari salah seorang temen, untuk memanfaatkan laptop yang kubawa, untuk chatting, dan sekalian ngecek data gempa terakhir di situs BMG. Dengan senang hati, aku ngambil laptopku dan segera membukanya. Eh, blom lagi tu laptop bener bener idup, ada yang teriak, “hey, don’t show up,” (dengan gaya Amerika, tapi ngga’mirip :p). Bisa ditebakkan siapa yang teriak teriak kaya’ gini? Ini jelas bikin aku langsung nanya, siapa yang show up. Sempet naik darah juga sih, tapi langsung temen temen nenangin. Betul-betul cobaan deh, di puasa hari pertama ini. Ya udah, kita lanjutin browsing, dan buka situs BMG, untuk cek data gempa terakhir. Ternyata episentrum gempa ada di darat, sekitar 50 km selatan Banda Aceh, dengan magnitude 5.5 (walopun ada yang mencatat 5.7).


Tim hore hore emergency


Sementara itu, dari atas bukit, kelihatan pantai yang masih tenang. Tidak ada tanda tanda akan terjadinya tsunami, mudah-mudahan. Instruksi dari pusat, kami harus tetap di bukit sampe jam 17.30 Waktu Indonesia Bagian Sini. Teteep, kegiatan photo photo berlanjut. Sampe akhirnya nyampe ke jam 17.30, kita semua pada turun dengan selamat.

Peta Gempa 5 October 2005


Malamnya sampe email yang ngirimin peta lokasi pusat gempa, dan juga gambaran keadaan di compound WFP di Banda Aceh. Ternyata di sana keadaannya lebih menegangkan. Gempanya lebih terasa kuat disana, dan kaca-kaca jendela ada yang pecah, dinding dinding ada yang retak. Pantesan, tindakan evakuasi segera diinstruksikan. Aku juga sempet sms temenku yang ada di Banda Aceh, Wira, dia bilang memang sangat kuat, dan beberapa bagian dinding di kantornya ada yang retak.

Inilah resiko yang harus kami hadapi. Kami yang berada di Aceh untuk sebuah misi kemanusiaan. Tentu saja bukan hanya kami, tetapi juga penduduk Aceh di wilayah pantai barat, yang luput dari bencana tsunami 26 Desember 2004, dan masih trauma apabila terjadi gempa, sekecil apapun gempa itu. Setelah kejadian itu, aku belum menghitung, udah berapa gempa lagi yang kami rasakan. Terakhir, aku merasakannya hari minggu malam, 9 Oktober 2005. Entah berapa kali lagi gempa yang akan kami rasakan nanti, kami cuma bisa berdo’a, agar tetap diberikan perlindungan. Do’kan kami teman.

Saturday, October 01, 2005

INSPIRATION PLEASE…..

Calang, jam 5 lewat 4 menit.. Judul di atas sengaja diketik dengan huruf besar semua, karena bacanya harus dengan suara yang lantang, tegas, dan semangat, bercampur galau :D. Mmhhh, hari ini kerja sampe jam 4 sore. yah, hari ini lumayan santai lah. Sore gini punya kesempatan nyantai, di kantor logistics, dengan laptopku..

Ada dua yang aku kerjain. Satu, dengerin musik… mmhhh, kaya’nya udah lama ngga’ dengerin koleksi musik pribadi, koleksi yang didapat dari… dari apa ya… mmhhh, dari, mo bilang pembajak, aku ngga’ beli dari tukang bajak. Tapi aku juga ngga’ beli. Inilah untungnya pernah kerja di stasiun radio. Cuma baru sadar nih, koleksi lagu lagu ku yang banyaknya sekitar.. sekitar brapa ya? Ntar, aku itung dulu brapa yang ada di laptop ini… Ya’, selesai ngitungnya dalam setengah menit. Ternyata ada 1070 lagu, hasil ngembat dari station radio star 104,6 fm.

Itu blom lagi koleksi yang ngga’ aku masukin di laptop ini. Eh, tadi sampe mana? O ya, sampe aku baru sadar ternyata koleksi lagu laguku udah lama ngga' aku dengerin. Mmmhhh, kangen judulnya. Makanya aku ambil laptopku yang umurnya baru sekitar dua mingguan, dan masih jarang dipake. Maafkan daku laptop, karena ngga’ begitu memberdayakanmu. Aku berjanji akan memberdayakanmu semaksimal mungkin, untuk hal hal yang positif. Seperti misalnya chatting he he he. Ini ada manfaatnya juga tentu, kalo ketemu dengan temen chat yang asik. Inilah hal kedua yang aku kerjain. Eh, ada satu lagi, kan lagi mengarang juga nih.. he he he… (di sekolahan SD masih ada ngga’ ya pelajaran mengarang? Tau deh…)

Ngomong-ngomong soal chatting, ada satu yang lucu nih. Ceritanya ada 3 makhluk di kantor logistics ini. Dua memang penghuni tetap, dan satu lagi, ya si pengungsi yang satu ini, yang perlu access LAN dari kantor ini, buat connect ke internet. Nah, aku dan satu penghuni tetap sama sama sedang chatting. Dan masing masing saling berhubungan. Aku chatting dengan Melisa, logistics staff dari base lain, sementara temenku yang satu ini chatting juga dengan temennya Melisa di basenya, yang kebetulan juga temennya temenku ini yang tinggalnya di sebelah rumah yang ada di sebelah rumahnya...(jangan bingung ya bacanya). Dan aku juga chatting dengan temenku ini, walopun satu ruangan. Tau' deh, apa si Melisa juga sedang chatting dengan temen satu kantornya di sana yang lagi chatting sama temenku yang di sini. Udah deh, ngga’ penting.

Yah, inilah aku, yang sedang ngga’ tau mo ngapain, dan kaya’nya lagi kangen dengan suasana siaran waktu dulu. Sepertinya kemampuanku mengolah kata udah semakin menurun sejak meninggalkan dunia persiaran radioan sekitar dua bulanan yang lalu. Kosa kata yang ada di kepala udah makin berkurang, ngga’ kaya’ dulu lagi waktu masih jadi kuli kata kata, dengan modal bibir dan isi kepala tentunya, hadap hadapan dengan microphone di studio. Makanya nih, aku pengen mengasah kembali kemampuan berkata kata, yang dulu setiap hari dan setiap waktu diasah.

WAKTUNYA UNTUK MULAI MENULIS LAGI!!!

Yang aku butuhkan sekarang sebenarnya adalah inspirasi… yang bisa kita dapatin dari apa yang kita lihat, denger dan rasakan. Disini, di tempat sekarang aku berada, banyak sekali insprasi. Pantai-pantai yang indah, yang bisa dikunjungi dengan 10 menit berjalan kaki dari kantor, buku buku bacaan yang aku bawa dari Medan, musik yang aku dengar.. semuanya inspiratif dan tentu aja semua peristiwa-peristiwa yang terjadi disini.

Sekarang aku lagi dengerin satu lagu dari Budapet, pake s sebelum t, Budapest maksudnya. Band asal Leamington Spa, satu kota kecil di Oxford, Inggris. Is this the best it gets.. yang diambil dari sampul album bertajuk too blind to hear (plis deh bahasanya, kaya’ penyiar radio taon 80-an), lagu yang… ah, aku ngga’ bisa gambarin gimana perasaan ini pas dengerin lagu ini. Lagu yang pasti aku puterin pas lagi siaran dulu.

Trus lanjut satu lagu dari band asal Santa Barbara, Dishwalla yang judulnya Collide. Lagunya masih se-tipe.. ngga’ tau nih, lagi feeling mellow mellow.. namanya juga lagi kangen… kangen sama suasana yang dulu.. apalagi pas siaran malam… sambil ditemenin suara krang kring telepon, dari penelepon iseng, aga’ iseng maupun tidak iseng.

Yah, pastinya saya sedang nyari inspirasi nih. Inspiration please…..

* Suntuk itu sebenarnya adalah sebuah inspirasi…. Yakin deh, banyak lagu yang liriknya ditulis pas penulisnya lagi suntuk.. :)

After Almost 10 Months...

Finally, I'm back. Setelah hampir 10 bulan, blog ini terabaikan.
Dan aku baru sadar, ternyata bulan ini adalah 1st anniversary of my blog.



October 2004 - October 2005